Dikecam Masyarakat, Ini Alasan Para Dokter Korea Selatan Tetap Mogok

Aksi mogok massal yang dilakukan oleh slot jepang para dokter junior baru-baru ini udah memicu masalah yang belum dulu berjalan di awalnya pada proses medis Korea Selatan yang selama ini dianggap baik. Baik pemerintah maupun group dokter menolak untuk mengubah rencana meningkatkan jumlah tempat di sekolah kedokteran.

Pemerintah udah memastikan ulang perlunya reformasi medis, sementara para dokter mengecam arah rencana tersebut dan menganggapnya keliru perhitungan. Jadi mengapa para dokter, keliru satu profesional yang paling dihormati di negara ini, mempertaruhkan kesejahteraan pasien dan reputasi mereka untuk menentang rencana pemerintah untuk meningkatkan kuota sekolah kedokteran?

Apa yang memicu pemogokan?

Pemerintah Korea Selatan memberitakan pada 6 Februari bahwa mereka bakal meningkatkan 2.000 kursi baru didalam kuota sekolah kedokteran dari 3.058 kursi yang tersedia sementara ini, merasa tahun ajaran 2025. Tujuannya adalah untuk menutupi kekurangan dokter di bidang-bidang perlu dan memperluas akses ke fasilitas kebugaran di luar lokasi ibukota.

Namun, meningkatkan kuota bukanlah solusi, menurut Joo Soo-ho, kepala dewan hubungan penduduk komite darurat di bawah Asosiasi Dokter Korea, yang merupakan group dokter terbesar di negara itu bersama kurang lebih 140.000 anggota. Dia mengklaim bahwa Korea tidak kekurangan dokter, dan punyai lebih banyak dokter bukanlah solusi kekurangan tenaga medis di tempat pedesaan, menggemakan pendapat banyak dokter lain.

Sebaliknya, Joo menyebutkan bahwa seluruh proses medis Korea mesti meniti operasi besar-besaran untuk mengembalikannya dari ambang kehancuran. Kompensasi yang lebih baik, menyimak kebutuhan para dokter, serta membangun jaring pengaman untuk kecelakaan hukum sanggup menjadi solusi yang lebih baik, katanya.

Meskipun Korea Selatan bangga bersama proses fasilitas kesehatannya yang terjangkau, negara ini punyai jumlah dokter per kapita yang paling sedikit di negara maju. Data dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyatakan terdapat kurang lebih 2,6 dokter per 1.000 orang, dibandingkan bersama kebanyakan 3,7 dokter. Austria yang menempati peringkat teratas punyai 5,5 dokter per 1.000 penduduk.

“Orang lanjut umur membutuhkan fasilitas kebugaran lebih dari kebanyakan generasi muda,” kata Dr Kwon kepada Asia Now dari CNA pada Rabu. “Jadi hadapi keliru satu penduduk yang menua bersama cepat, keinginan bakal fasilitas dokter meningkat benar-benar pesat.”

Kini, kekurangan dokter udah memicu pemberian kompensasi yang terlalu berlebih kepada dokter yang udah mapan. Ketika mengulas masalah apakah Korea punyai lumayan dokter, frekuensi pemanfaatan fasilitas kebugaran menjadi indikator utama, menurut Joo.

“Korea Selatan adalah hanya satu negara di dunia di mana pasien sanggup bersua dan menerima perawatan dari dokter bersama biaya rendah pada hari yang mereka inginkan. Jika pasien menginginkan operasi katarak hari ini, misalnya, mereka sanggup mendapatkannya, sedang di Eropa butuh sementara sebagian puluh hari. Di sana terhitung lebih mahal,” kata Joo kepada The Korea Herald.

Ketika ditanya perihal statistik pemerintah, Joo menyebutkan bahwa statistik tersebut tidak memberikan uraian yang lengkap, dan menyebutkan bahwa Korea punyai jumlah dokter yang serupa bersama Amerika Serikat dan Jepang.

Berbicara perihal kesenjangan medis antara tempat perkotaan dan pedesaan, Joo menyebutkan bahwa tempat pedesaan hadapi ketidaksetaraan fasilitas kebugaran gara-gara pasien pergi ke rumah sakit di Seoul, walau kampus dan rumah sakit lazim di tempat non-perkotaan sediakan tingkat perawatan yang sama. “Penduduk pedesaan berbondong-bondong ke Seoul, memicu rumah sakit di sana menurun. Bagaimana perihal ini ditafsirkan sebagai masalah kekurangan dokter?”

mahjong ways 2