Ini 5 Perusahaan Raksasa yang Bangkrut Akibat Tergerus Era Digitalisasi

Ini 5 Perusahaan Raksasa yang Bangkrut Akibat Tergerus Era Digitalisasi
Ini 5 Perusahaan Raksasa yang Bangkrut Akibat Tergerus Era Digitalisasi

Meskipun pernah mengalami era kejayaan https://303grilldallas.com/ sepanjang bertahun-tahun perusahaan besar yang bangkrut di era milenium menunjukkan kecuali tak senantiasa ketenaran membawa dampak mereka dapat bertahan.

Dilansir berasal dari Asia Quest Indonesia sebagian perusahan tersebut dapat di bilang adalah tidak benar satu perusahaan yang berjaya pada masanya. Namun perusahaan tersebut tidak dapat bersaing dan mengalami kebangkrutan akibat arus digitalisasi yang makin lama membeludak akhir-akhir ini, dan makin lama banyak perusahaan yang pada mulanya berbasis konvensional kini migrasi ke arah digitalisasi.

Berikut adalah 5 perusahan yang bangkrut akibat tergerus era moderen digitalisasi:

1. Nokia

Nokia merupakan perusahaan asal Finlandia yang menguasai pasar telfon genggam di era tahun 2000-an. Perusahaan ini jadi tidak benar satu perusahaan yang menguasai industri telfon genggam di seluruh dunia pada era tersebut. Namun, di pas Samsung fokus mengembangkan sistem android dan iPhone dengan IOSnya, Nokia malah terlena dengan dominasi pasar dan mempertahankan symbolis bentuk asli product Nokianya.

Alhasil, Nokia ketinggalan jauh berasal dari para kompetitornya dikarenakan tidak dapat sesuaikan diri dengan perkembangan sistem android. Nokia pun berusaha mengejar ketinggalan dengan mengembangkan sistem baru, tetapi ketentuan gegabah itu membawa dampak product Nokia tidak laku di pasaran.

2. Myspace

Myspace adalah sarana yang tenar di AS di tahun 2000-an tetapi sarana sosial yang tenar di kalangan pecinta music dan hiburan ini terpaksa kalah saing dengan facebook dan twitter.

Kekalahan myspace, dapat di bilang dikarenakan ketidakmampuan platfrom tersebut untuk mengembangkan produknya. Alhasil Myspace tidak berkembang dan tertinggal jauh supaya mesti mengalami kebangkrutan pada tahun 2008.

3. Toy R us

Toy R us adalah perusahan toko mainan asal Amerika Serikat yang memilik nyaris 700 outlet yang tersebar di Amerika dan Inggris. Toy R us mesti tutup pada tahun 2017, akibat kalah berasal dari tren membeli online pada e-commerce yang telah menggeser tabiat membeli costumer ke arah yang lebih praktis.

4. Disc Tarra

Disc Tarra merupakan perusahaan ritel yang menjual CD, VCD dan DVD terbesar dan punya lebih berasal dari 238 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia.

Namun pada tahun 2015 Disc Tarra terpaksa mesti menutup seluruh outlet mereka dikarenakan tidak dapat bersaing dan menanggung beban akibat cost operasional yang begitu besar, dan Disc tarra tidak punya konsep untuk berekspansi ke usaha digital dan pada pada akhirnya mengalami kebangkrutan.

Baca Juga: Founder LSPR : Pendidikan Berperan Cepat Atasi Kemiskinan

5. Pay Less

Pay less adalah toko retail pengecer sepatu yang lumayan digemari di Indonesia dikarenakan kerap menawarkan diskon yang lumayan besar pada konsumen.

Namun perusahaan yang telah ada sejak tahun 1965 ini mesti mengalami kebangkrutan dan menutup seluruh tokonya di tahun 2019, akibat ketidakmampuan perusahaan dikarenakan besarnya beban pinjaman dan beban operasional yang di tanggung perusahaan akibat banyaknya toko fisik.

Dari toko retail hingga perusahaan terbesar yang pernah mendominasi pasar di seluruh dunia dapat mengalami kebangkrutan akibat tidak beradaptasi dan ikuti tren digitalisasi untuk mempertahankan era depan perusahaanya.

mahjong ways 2